IMPIAN YANG TAK SIA-SIA
Mimpi,
impian, harapan semua orang pasti mempunyainya. Tak berbeda dari kebanyakan
orang, aku juga mempunyai beribu-ribu mimpi, dan mimpi terbesarku adalah
membebaskan adikku dari penyakit ginjalnya. Itu impian besar untuk anak miskin
sepertiku. Ayahku sudah meninggal sejak aku berumur 12 tahun, sedangkan ibuku
hanya seorang pegawai toko. halo, perkenalkan
nama saya Afrizal Febriora, biasa dipanggil Rio. Saya murid SMA yang tinggal di
asrama, dimana terdapat puluhan aturan yang harus ditaati dan hampir saja
membunuhku. Aturan adalah tantangan terbesar anak asrama, tetapi aku tidak
terlalu memperdulikannya.
Bulan ini bulan April, ini tandanya
akan diselenggarakan lomba INC “Intelligent
National Competition”. INC adalah lomba nasional yang hanya bisa diikuti
oleh sekolah favorit tertentu. Ini alasannya aku bersekolah disini. Sistemnya
seperti sebuah quz, kami akan diseleksi terlebih dahulu dan yang lolos akan
disiarkan di stasiun TV untuk menjawab atau melempar pertanyaan. Aku ingin
memenangkan lomba ini, karena hadiahnya sangat menjajnjikan, yaitu dengan
hadiah utama 500 juta. Alasan aku sangat menginginkan uang sebanyak itu untuk
biaya operasi ginjal adik perempuanku dan membayar hutang ibuku selama ini
untuk biaya cuci darah adikku. Tekadku ini sungguh kuat, aku tidak ingin
melihat adikku menderita sejak kecil.
Hari ini hari seleksi lomba CSN,
yang diikuti oleh semua siswa. Aku sudah optimis dapat lolos karena aku sudah
mempersiapkan ini jauh sebelum aku masuk SMA. Tak dapat disangka akhirnya aku lolos seleksi
juga. Dan dari sekolahku hanya aku yang lolos seleksi. Setiap malam aku belajar
sampai larut malam, dan saat Rendra, teman sekamarku pergi ke kamar mandi aku pura-pura tidur agar
dia tidak khawatir. Dan di sore hari aku harus menyelinap keluar asrama untuk
membantu ibuku. Rendra selalu tampak mengkhawatirkanku, tapi sebenarnya aku
tidak apa apa.
“ Ri, kamu sakit yaaa? Itu atas meja
ada obat dari uks kemarin. Tapi kayaknya kamu udah baikkan, udah gak balik
kayak biasanya lagi. Please ri jangan
sakit lagi, kamu kemarin kayak orang kesurupan” kata Rendra pagi itu ucapannya
agak aneh.
“
Ngomong apasih ren, kamu habis ngimpi apa kemarin, kamu habis ngimpiin
aku ya” jawabku
“ Kamu beneran gak ingat? Kayaknya
kamu amnesia ri, coba besok cek ke rs “ jawab Rendra
Pagi
itu Rendra benar benar aneh, seperti ada sesuatu kemarin. Padahal kemarin aku
dan Rendra makan siang bersama. Aku piker Rendra terlalu banyak tidur dan dia
terlalu banyak bermimpi atau mungkin dia mencoba melawak. Aku tahu lawakannya
selalu garing. Beberapa hari kemudian dia mengatakan hal yang sama, dia bercerita
bahwa aku benar benar berbeda dari aku biasanya. Bahkan dia bilang aku membolos
sekolah kemarin. Aku pikir dia mulai mengarang, bahkan dia juga sering
membawakan obat untukku.
H-4 pelaksanaan lomba, ada hal aneh
lain terjadi. Tiba tiba di siang hari aku terbangun tertidur di kursi yang
berada di tengah pasar. Aku sangat terkejut dan ketakutan kenapa tiba tiba aku
bisa berada disini. Bahkan hari ini aku tidak berangkat sekolah. Aku mulai
percaya apa yang dikatakan Rendra. Kukira aku mempunyai penyakit aneh, seakan
aku tidak sadar apa yang telah aku lakuakn.
“ Ren, sorry ya aku selalu gak percaya apa yang kamu bilang. Tapi jujur
aku sangat takut sekarang. Kenapa disaat mendekati hari perlombaan seperti ini,
penyakit aneh ini muncul “ kataku dengan sedikit panik.
“ Tenang ri, mungkin kamu cuman
kurang istirahat. Tapi dari dulu aku pikir kamu punya kepribadian ganda dan
kepribadian barumu sangat berbeda bertentangan dengan kepribadian aslimu “komen
Rendra sambil menepuk pundakku.
“ Aku juga sempat berfikir seperti
itu,dan dulu aku juga pernah didiagnosa mempunyai kepribadian baru seperti
seorang yang suka memberontak. Sifat ini muncul karena didikan ayahku yang
terlalu keras, tapi seiring berjalannya waktu kepribadian itu hilang dengan
sendirinya. Dan aku yakin pasti kepribadian itu muncul lagi. Ren, aku minta tolong hanya sampai hari
perlombaan saja kamu rahasiakan penyakitku ini. Aku takut bila ada yang tau, aku
dilarang mengikuti lomba INC “ ucapku dengan yakin
“ ohh ya aku tahu, tapi jangan
terlalu memaksakan diri. Itu atas rak bukumu ada obat penenang. Kalo sifat
barumu muncul minum aja obat itu “ kata rendra sedikit khawatir
Aku
sangat bersyukur mempunyai teman seperti dia. Dia diam diam mengikutiku saat
aku menjadi sifat baru dan selalu membawakanku obat.
Hari ini hari perlombaan, aku
terbangun dihadapan Rendra. Dia bilang kalo sifat baruku muncul hari ini. Aku
mulai kebingungan dan khawatir kalo tiba tiba aku menjadi kasar di perlombaan
padahal seluruh negeri ini akan melihat. Aku menyerah saja sampai disini, semua
impianku sia-sia, semua menjadi kacau. Sejenak aku terdiam dan terlintas
bayangan senyum adikku dan ibuku. Membuatku tersenyum kembali. Impianku tidak
akan berhenti sampai disini Dan
kubulatkan tekadku untuk tetap mengikuti perlombaan ini. Dengan semangat dari
teman teman ku berangkat menuju tempat perlombaan.
Usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Aku selalu yakin itu, kiinjakkan kembali kakiku menuju gerbang sekolah. Suara
sorakan dari temanku terdengar sangat ramai. Aku sangat senang dan ikut
bersorak atas kemenanganku. Aku berhasil membawa 500 juta itu kembali. Sekarang
namaku melonjak di negeri ini. Dan aku sedikit takut seluruh negeri mengetahui
penyakitku, tapi inilah resiko yang harus kutanggung.
Dua hari kemudian adikku berhasil
menjalankan operasi ginjal. Sangat puas melihat senyum diwajahnya. Sekarang dia
lebih sering tertawa dari sebelumnya. Dan ibuku berhasil melunasi hutang
hutangnya. Sedangkan aku harus menjalani terapi selama 4 bulan untuk
menghilangkan kepribadian baruku. Rasanya sangat puas dapat meraih impianku
Walau setiap mimpi selalu terlihat jauh, tetapi usaha yang selalu mendekatkan
kita pada mimpi itu. Halangan, rintangan dan resiko adalah hal hal yang harus
ditanggung oleh seorang pemenang. Yakinlah pada mimpimu, karena sukses tidak
ditentuakan oleh faktor keturunan atau nasib melainkan karena usaha dan cara
berfikir.
Terima kasih sudah membaca, selamat bermimpi :)
