Sabtu, 22 April 2017

Impian yang Tak Sia-Sia

ini blog pertama yang admin buat nihh, ini ceritanya admin baru belajar buat blog sama mau berbagi cerpen buat kalian. entahh kenapa belakangan ini admin suka buat cerpen tapi cerpennya cuman disimpen sendiri. kan sayang buat-buat sendiri baca-baca sendiri. jadi, kali ini mimin bakalan nge-share imajinasi cerita bertema dreams. mohon maaf jika  ada kesalaah"an dan tolong di komen ya..... ^-^



IMPIAN YANG TAK SIA-SIA
Mimpi, impian, harapan semua orang pasti mempunyainya. Tak berbeda dari kebanyakan orang, aku juga mempunyai beribu-ribu mimpi, dan mimpi terbesarku adalah membebaskan adikku dari penyakit ginjalnya. Itu impian besar untuk anak miskin sepertiku. Ayahku sudah meninggal sejak aku berumur 12 tahun, sedangkan ibuku hanya seorang pegawai toko. halo, perkenalkan nama saya Afrizal Febriora, biasa dipanggil Rio. Saya murid SMA yang tinggal di asrama, dimana terdapat puluhan aturan yang harus ditaati dan hampir saja membunuhku. Aturan adalah tantangan terbesar anak asrama, tetapi aku tidak terlalu memperdulikannya.
            Bulan ini bulan April, ini tandanya akan diselenggarakan lomba INC “Intelligent National Competition”. INC adalah lomba nasional yang hanya bisa diikuti oleh sekolah favorit tertentu. Ini alasannya aku bersekolah disini. Sistemnya seperti sebuah quz, kami akan diseleksi terlebih dahulu dan yang lolos akan disiarkan di stasiun TV untuk menjawab atau melempar pertanyaan. Aku ingin memenangkan lomba ini, karena hadiahnya sangat menjajnjikan, yaitu dengan hadiah utama 500 juta. Alasan aku sangat menginginkan uang sebanyak itu untuk biaya operasi ginjal adik perempuanku dan membayar hutang ibuku selama ini untuk biaya cuci darah adikku. Tekadku ini sungguh kuat, aku tidak ingin melihat adikku menderita sejak kecil.
            Hari ini hari seleksi lomba CSN, yang diikuti oleh semua siswa. Aku sudah optimis dapat lolos karena aku sudah mempersiapkan ini jauh sebelum aku masuk SMA.  Tak dapat disangka akhirnya aku lolos seleksi juga. Dan dari sekolahku hanya aku yang lolos seleksi. Setiap malam aku belajar sampai larut malam, dan saat Rendra, teman sekamarku  pergi ke kamar mandi aku pura-pura tidur agar dia tidak khawatir. Dan di sore hari aku harus menyelinap keluar asrama untuk membantu ibuku. Rendra selalu tampak mengkhawatirkanku, tapi sebenarnya aku tidak apa apa.
            “ Ri, kamu sakit yaaa? Itu atas meja ada obat dari uks kemarin. Tapi kayaknya kamu udah baikkan, udah gak balik kayak biasanya lagi. Please ri jangan sakit lagi, kamu kemarin kayak orang kesurupan” kata Rendra pagi itu ucapannya agak aneh.
            “  Ngomong apasih ren, kamu habis ngimpi apa kemarin, kamu habis ngimpiin aku ya” jawabku
            “ Kamu beneran gak ingat? Kayaknya kamu amnesia ri, coba besok cek ke rs “ jawab Rendra
Pagi itu Rendra benar benar aneh, seperti ada sesuatu kemarin. Padahal kemarin aku dan Rendra makan siang bersama. Aku piker Rendra terlalu banyak tidur dan dia terlalu banyak bermimpi atau mungkin dia mencoba melawak. Aku tahu lawakannya selalu garing. Beberapa hari kemudian dia mengatakan hal yang sama, dia bercerita bahwa aku benar benar berbeda dari aku biasanya. Bahkan dia bilang aku membolos sekolah kemarin. Aku pikir dia mulai mengarang, bahkan dia juga sering membawakan obat untukku.
            H-4 pelaksanaan lomba, ada hal aneh lain terjadi. Tiba tiba di siang hari aku terbangun tertidur di kursi yang berada di tengah pasar. Aku sangat terkejut dan ketakutan kenapa tiba tiba aku bisa berada disini. Bahkan hari ini aku tidak berangkat sekolah. Aku mulai percaya apa yang dikatakan Rendra. Kukira aku mempunyai penyakit aneh, seakan aku tidak sadar apa yang telah aku lakuakn.
            “ Ren, sorry ya aku selalu gak percaya apa yang kamu bilang. Tapi jujur aku sangat takut sekarang. Kenapa disaat mendekati hari perlombaan seperti ini, penyakit aneh ini muncul “ kataku dengan sedikit panik.
            “ Tenang ri, mungkin kamu cuman kurang istirahat. Tapi dari dulu aku pikir kamu punya kepribadian ganda dan kepribadian barumu sangat berbeda bertentangan dengan kepribadian aslimu “komen Rendra sambil menepuk pundakku.
            “ Aku juga sempat berfikir seperti itu,dan dulu aku juga pernah didiagnosa mempunyai kepribadian baru seperti seorang yang suka memberontak. Sifat ini muncul karena didikan ayahku yang terlalu keras, tapi seiring berjalannya waktu kepribadian itu hilang dengan sendirinya. Dan aku yakin pasti kepribadian itu muncul lagi.  Ren, aku minta tolong hanya sampai hari perlombaan saja kamu rahasiakan penyakitku ini. Aku takut bila ada yang tau, aku dilarang mengikuti lomba INC “ ucapku dengan yakin
            “ ohh ya aku tahu, tapi jangan terlalu memaksakan diri. Itu atas rak bukumu ada obat penenang. Kalo sifat barumu muncul minum aja obat itu “ kata rendra sedikit khawatir
Aku sangat bersyukur mempunyai teman seperti dia. Dia diam diam mengikutiku saat aku menjadi sifat baru dan selalu membawakanku obat.
            Hari ini hari perlombaan, aku terbangun dihadapan Rendra. Dia bilang kalo sifat baruku muncul hari ini. Aku mulai kebingungan dan khawatir kalo tiba tiba aku menjadi kasar di perlombaan padahal seluruh negeri ini akan melihat. Aku menyerah saja sampai disini, semua impianku sia-sia, semua menjadi kacau. Sejenak aku terdiam dan terlintas bayangan senyum adikku dan ibuku. Membuatku tersenyum kembali. Impianku tidak akan berhenti sampai disini  Dan kubulatkan tekadku untuk tetap mengikuti perlombaan ini. Dengan semangat dari teman teman ku berangkat menuju tempat perlombaan.
            Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Aku selalu yakin itu, kiinjakkan kembali kakiku menuju gerbang sekolah. Suara sorakan dari temanku terdengar sangat ramai. Aku sangat senang dan ikut bersorak atas kemenanganku. Aku berhasil membawa 500 juta itu kembali. Sekarang namaku melonjak di negeri ini. Dan aku sedikit takut seluruh negeri mengetahui penyakitku, tapi inilah resiko yang harus kutanggung.
            Dua hari kemudian adikku berhasil menjalankan operasi ginjal. Sangat puas melihat senyum diwajahnya. Sekarang dia lebih sering tertawa dari sebelumnya. Dan ibuku berhasil melunasi hutang hutangnya. Sedangkan aku harus menjalani terapi selama 4 bulan untuk menghilangkan kepribadian baruku. Rasanya sangat puas dapat meraih impianku Walau setiap mimpi selalu terlihat jauh, tetapi usaha yang selalu mendekatkan kita pada mimpi itu. Halangan, rintangan dan resiko adalah hal hal yang harus ditanggung oleh seorang pemenang. Yakinlah pada mimpimu, karena sukses tidak ditentuakan oleh faktor keturunan atau nasib melainkan karena usaha dan cara berfikir.

Terima kasih sudah membaca, selamat bermimpi :)